dr. Krisma Kurnia, Sp.PD, FINASIM, AIFO-K (Internist – Endoscopist) | dr.Berto (Hospital Director)
Endoskopi adalah prosedur medis yang membantu dokter melihat bagian dalam tubuh menggunakan alat khusus yang disebut endoskop. Endoskop merupakan selang fleksibel yang dilengkapi dengan kamera dan sumber cahaya untuk menampilkan gambar ke layar monitor. Prosedur medis ini merupakan minimal invasif atau minim sayatan karena endoskop akan dimasukkan melalui mulut, anus, maupun sayatan kecil. Endoskopi sering digunakan untuk mendiagnosis, mengobati dan sebagai skrining berbagai kondisi medis.

Endoskopi dilakukan dengan memasukkan alat endoskop melalui lubang pada tubuh, misalnya dimasukkan melalui hidung untuk memeriksa saluran pernapasan, atau melalui mulut untuk melihat saluran cerna bagian atas.
Namun, pada beberapa jenis endoskopi, seperti laparoskopi atau artroskopi, endoskop akan dimasukkan melalui sayatan (insisi) kecil pada kulit.
Tujuan Endoskopi
Prosedur endoskopi dapat membantu dokter melihat langsung organ di dalam tubuh tanpa membuat sayatan besar atau operasi terbuka. Umumnya, prosedur ini dilakukan jika pasien memiliki gejala spesifik tertentu.
Berikut tujuan pemeriksaan dilakukan endoskopi :
Memeriksa kerongkongan, lambung, serta usus halus untuk mendeteksi adanya tukak lambung, GERD, radang (gastritis), atau tumor.
Memeriksa anus, rektum dan usus besar untuk mendeteksi polip, kanker usus, atau radang usus.
Memeriksa saluran pernapasan, seperti polip hidung, sinusitis kronis, atau masalah tenggorokan.
Mengangkat polip di lambung atau usus besar.
Menangani perdarahan pada tukak lambung atau varises esofagus
Mengambil sampel (biopsi)
Kondisi yang Membutuhkan Endoskopi
Beberapa kondisi yang memerlukan pemeriksaan endoskopi :
Nyeri ulu hati kronis atau rasa tidak nyaman pada bagian atas perut yang berlangsung lama dan tidak membaik dengan pengobatan
Kesulitan menelan
Mual atau muntah kronis
Perdarahan saluran pencernaan
Rasa tidak nyaman pada perut bagian atas karena masalah asam lambung atau penyakit maag (dispepsia)
Luka pada bagian lambung
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
Jenis-jenis Prosedur Endoskopi
Jenis endoskopi yang dilakukan tergantung pada bagian tubuh yang diperiksa.
Gastroskopi (EGD = EsophagoGastroDuodenoscopy)

Gastroskopi atau Esophagogastroduodenoscopy (EGD) adalah jenis endoskopi yang dilakukan untuk memeriksa kerongkongan, lambung, dan usus halus.
Kolonoskopi (colonoscopy)

Jenis endoskopi ini dilakukan untuk memeriksa usus besar (kolon), rektum dan anus. Umumnya untuk mendiagnosis penyakit saluran pencernaan bawah dan mendeteksi kanker usus besar. Jenis endoskopi ini memiliki sensitivitas tinggi dalam mendeteksi kanker mencapai 95.¹
Bronkoskopi (bronchoscopy)
Pemeriksaan yang dilakukan untuk memantau saluran napas dan paru-paru.
Sistoskopi (cystoscopy)

Pemeriksaan endoskopi yang dilakukan untuk memeriksa kandung kemih dan uretra.
Kolposkopi (colposcopy)

Jenis endoskopi yang dilakukan untuk memantau kondisi leher rahim (serviks) yang umum untuk mendiagnosis displasia serviks dan kanker serviks.
Laringoskopi (laryngoscopy)

Prosedur endoskopi yang dilakukan untuk melihat adanya gangguan pada tenggorokan dan pita suara, misalnya polip atau kanker tenggorokan.
Torakoskopi (thoracoscopy)

Prosedur yang dilakukan untuk mengatasi antara rongga dinding dada dan paru maupun melakukan biopsi jaringan paru-paru.
Laparoskopi (laparoscopy)

Prosedur bedah minimal invasif untuk melihat organ di dalam rongga perut.
Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP)

Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP) atau endoskopi retrograde kolangiopankreatografi adalah prosedur yang menggabungkan endoskopi dengan sinar-X untuk mengatasi dan mengobati gangguan pada saluran empedu, kandung empedu serta pankreas.
Kelebihan Endoskopi
Minimal invasif dibandingkan operasi
Memberikan gambaran langsung kondisi organ
Dapat digunakan untuk diagnosis dan atau terapi
Waktu pemulihan singkat
Persiapan Sebelum Endoskopi
Persiapan tergantung pada jenis prosedur yang akan dilakukan. Umumnya, prosedur ini membutuhkan waktu sekitar 15-60 menit. Beberapa persiapan yang perlu dilakukan, seperti :
Puasa
Pasien biasanya diminta untuk tidak makan dan minum selama beberapa jam sebelum prosedur.
Penyesuaian Obat
Beberapa obat mungkin perlu dihentikan sementara, terutama obat pengencer darah.
Persiapan Usus (Kolonoskopi)
Pasien perlu mengonsumsi obat pencahar atau larutan khusus untuk membersihkan usus (bowel cleansing).
Pelaksanaan Prosedur Endoskopi
Prosedur endoskopi akan dilakukan dengan beberapa langkah, seperti :
Sebelum melakukan endoskopi, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan berbagai pemeriksaan penunjang
Dokter akan memberikan penjelasan mengenai bagaimana proses endoskopi dilakukan
Ketika endoskopi akan dimulai, dokter memberikan anestesi demi kenyamanan pasien
Alat endoskopi (endoskop) akan dimasukkan melalui mulut atau rektum
Dokter akan melakukan endoskopi dengan memantau gambar organ dalam pada layar
Pemulihan Setelah Endoskopi
Setelah prosedur:
Kondisi pasien akan dipantau oleh dokter hingga efek anestesi yang diberikan hilang
Umumnya, pasien dapat pulang pada hari yang sama
Namun, untuk mengantisipasi rasa lelah atau tidak nyaman akibat efek anestesi maka tidak disarankan untuk mengemudi atau melakukan aktivitas berat.
Dokter mungkin dapat menjelaskan hasil awal segera setelah prosedur. Jika dilakukan biopsi, hasilnya biasanya tersedia dalam beberapa hari. Tindak lanjut akan disesuaikan dengan temuan dan diagnosis.
Risiko dan Komplikasi
Endoskopi umumnya aman, tetapi tetap memiliki risiko atau efek samping meskipun jarang terjadi. Beberapa kemungkinan risiko yang bisa terjadi, seperti perdarahan pasca biopsi sebesar 0,18%², rasa nyeri tidak membaik, demam, hingga pembengkakan pada area kulit yang disayat.
Kapan Harus Mencari Pertolongan Medis Setelah Endoskopi?
Segera hubungi dokter jika mengalami beberapa tanda-tanda ini setelah melakukan endoskopi :
Nyeri perut hebat
Kesulitan bernapas
Muntah atau perdarahan yang terus-menerus
Kesimpulan
Endoskopi merupakan prosedur medis yang penting dan digunakan untuk membantu dokter mendiagnosis dan mengobati berbagai kondisi dengan risiko minimal. Dengan persiapan yang tepat dan pelaksanaan yang baik, prosedur ini umumnya aman dan efektif bagi sebagian besar pasien.
Referensi:
Kang, JHE., et al. (2021). Systematic review with meta-analysis: the prevalence of post-colonoscopy colorectal cancers using the World Endoscopy Organization nomenclature. Aliment Pharmacol Ther, 2021 Nov;54(10):1232-1242. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34587323/
Lv, Xiu-He., et al. (2025). Colonoscopy-related adverse events in the 21st century: An updated systematic review and meta-analysis. Am J Gastroenterol 2025 Mar 27. https://www.asge.org/home/resources/publications/journal-scan/issue/systematic-review-and-meta-analysis-provides-updated-picture-of-adverse-events-after-colonoscopy?utm_source=chatgpt.com